• Jenang, Kuliner Asli Kudus


               Kudus, Kota yang tak lepas dari adanya salah satu wali songo yang menyebarkan agama islam , yakni Syekh Ja'far Shodiq, atau lebih dikenal sebagai Sunan Kudus. Kudus memang terkenal dengan bangunan Menara Kudus yang dibangun oleh Sunan Kudus. Jika seseorang mendengar kata kudus, mungkin yang ada dipikirannya tentang kuliner khas nya adalah Jenang. Mari kita langsung ke pembahasannya.


    Apa itu Jenang ?


           
        Jenang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa, berasal dari Bahasa Jawa yang artinya sejenis panganan yang dibuat dari adonan yang terbuat dari tepung beras, santan, dan gula jawa.







    Sejarah Jenang ?


              Dalam sejarahnya, terdapat beberapa sumber diantaranya,


    Berasal dari adanya Tradisi Tebokan. Kirab Tebokan merupakan salah satu bentuk pelestarian tradisi dan sejarah pembuatan jenang. Hal tersebut tidak terlepas dari kisah Mbah Dempok. Zaman Dahulu, ketika Mbah Dempok Soponyono sedang bermain burung dara di tepi Sungai Kaliputu, cucunya tercebur dan hanyut. Meski tertolong, cucu Mbah Dempok diganggu Banaspati, makhluk halus berambut api. Sunan Kudus menyimpulkan cucu Mbah Dempok telah tiada, namun Syekh Jangkung menyatakan cucu Mbah Dempok mati suri. Untuk membangunkannya, Syekh Jangkung meminta ibu-ibu membuat jenang bubur gamping (yang terbuat dari tepung beras, garam, dan santan kelapa). Mitos tersebut yang menjadi latar belakang berkembangnya industri jenang Kudus terutama di Kaliputu. Kirab Tebokan terus dilakukan setiap tahunnya dengan harapan generasi selanjutnya tidak malu bekerja sebagai pembuat jenang serta mau melestarikan makanan khas Kudus yang sangat terkenal ini.



              Namun ada cerita rakyat yang menjelaskan bahwa, jenang kudus lahir ketika Sunan Kudus menguji kesaktian muridnya yang bernama Syekh Jangkung alias Saridin dengan menyuruhnya memakan bubur gamping di tepi Sungai Gelis di wilayah Desa Kaliputu. Padahal, gamping sendiri adalah bahan campuran semen yang digunakan sebagai bahan pembuatan bangunan. Ternyata Saridin tetap sehat sehingga Sunan Kudus berkata, ”Suk nek ono rejaning jaman wong Kaliputu uripe seko jenang. Artinya kurang lebih, jika suatu saat kelak sumber kehidupan warga Desa Kaliputu berasal dari usaha pembuatan jenang.





    Perbedaan Jenang Dengan Dodol ?


             Perusahaan dodol tersendiri, dulunya belajar dari jenang yang berada di kudus (1940). Hal ini dapat menjadi acuan bahwa, jenang lebih dahulu lahir daripada dodol. Jenang sendiri tidak jauh berbeda dengan dodol, namun hanya satu yang membedakannya yaitu di aspek teksturnya. Tekstur jenang cenderung lebih lembut dan empuk dibandingkan dodol. 

    0 Komentar

  • Tradisi Buka Luwur


    Dalam kesempatan postingan kali ini, saya akan membahas tentang perayaan/acara yang dapat dimasukkan ke dalam tradisi masyarakat Kudus. Pasti anda tidak asing lagi dengan perayaan Buka Luwur.

    Apakah sebenarnya Buka Luwur itu ?. Buka Luwur merupakan perayaan/acara tahunan yang diperingati setiap bulan Muharram (Syuro), lebih tepatnya, 10 Muharram. Acara ini tidak hanya sebatas mengganti kain kelambu penutup makam saja, tapi juga meliputi pengajian umum, pembacaan doa tahlil, dan pemasangan luwur(kain kelambu penutup makam) yang baru. Dan Mengapa diadakan pada tanggal 10 Muharram ?. Sebenarnya maksud dari acara Buka Luwur tersendiri itu memperingati haulnya Sunan Kudus, namun dikarenakan, tidak ada yang tau pasti kapan beliau meninggal, maka masyarakat tanggal 10 Muharram. Dan juga pada tanggal tersebut diyakini bahwa ilmu Tuhan (dari langit) diturunkan ke bumi, sehingga tanggal tersebut dianggap keramat.

    Oke, Kita langsung saja ke pembahasan, bagaimana kronologis perayaan Buka Luwur itu tersendiri ?. Upacara Buka Luwur diawali dengan penyucian pusaka yang berupa keris (Ciptoko atau Cintoko) yang diyakini milik sunan Kudus yang dilaksanakan jauh hari, yaitu pada akhir Besar (nama bulan sebelum bulan Syura). Biasanya air bekas mencuci keris tersebut yang sering disebut dengan “kolo”, diperebutkan masyarakat yang memiliki keris untuk mencuci kerisnya, karena mengharap berkah dari Sunan Kudus. Kemudian pada tanggal 1 Syura dilakukan pelepasan kelambu (Luwur). Pada malam tanggal 9 Muharram atau Syuro diadakan pembacaan Barjanji (berjanjen) yang merupakan ekspresi kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW. Pada tanggal 9 Muharram ba’dal shalat subuh diadakah khatamanSementara khataman berlangsung dibuatlah “bubur suro” yaitu bubur yang diberi bumbu yang berasal dari berbagai macam rempah-rempah (Kebanyakan terbuat dari berbagai macam bahan makanan khas jawa seperti Ketela, Kacang Hijau, Kacang Tolo, maupun Jagung)


    Di samping pembuatan bubur suro pada saat khataman Al Quran berlangsung, juga diadakan penyembelihan hewan yang yang biasanya berupa kambing dan kerbau yang diperoleh dari sumbangan masyarakat di sekitar Kudus. Kemudian pada malam harinya, diadakan pengajian umum yang isinya mengenai perjuangan dan kepribadian Sunan Kudus yang dapat dijadikan teladan.

    Esoknya (10 Muharram), dimulailah acara penggantian kelambu (Luwur) yang diawali dengan pembacaan ayat suci Al Quran dan tahlil yang hanya khusus diikuti oleh para kyai. Bersamaan dengan penggantian Luwur, panitia membagikan makanan yang berupa nasi dan daging (sego mbah sunan) yang sudah di masak kepada masyarakat dan dibungkus dengan daun jati. Alasan mengapa dibungkus dengan daun jati adalah agar aroma nasi tersebut menjadi sedap. Masyarakat pun dengan animo-nya bersusah payah untuk mendapatkan sego mbah sunan (nasi berkat) meskipun antri berjam-jam dan berdesak-desakkan, sebab makanan tersebut dianggap oleh masyarakat mengandung banyak khasiat.

    Buka Luwur bagi masyarakat kudus itu seperti Tradisi Sosial. Hal ini dikarenakan dalam kegiatan tersebut masyarakat terlibat secara aktif baik dalam kegiatan pengumpulan bahan-bahan masakan (sumbangan masyarakat), proses pemasakan sampai matang, dan dalam pembagian sego mbah sunan.  Partisipasi masyarakat tidak sampai segitu saja, mereka pun tidak hanya menyumbangkan kambing atau kerbau. namun juga menyumbangkan berupa gula pasir, garam, kelapa dan sebagainya. Ini yang menyebabkan Buka Luwur menjadi tradisi turun temurun sebagai ajang gotong royong dan saling berbagi dalam masyarakat Kudus. 

    Secara historis, dalam menyebarkan agama Islam, Walisongo menggunakan berbagai macam perantara untuk menyebarkan agama islam. Sunan Kudus sebagai salah satu Walisongo menggunakan cara Akulturasi, yakni dengan menggabungkan tradisi islam dengan tradisi setempat. Sunan Kudus sadar apabila menginginkan Islam diterima oleh masyarakat kudus, haruslah bersifat akomodatif terhadap budaya lokal setempat tanpa harus kehilangan budaya islam itu tersendiri. Hal tersebut menjadikan agama islam yang semula kurang diterima masyarakat jawa (yang semula mempunyai kepercayaan Hindu-Budha), akhirnya dapat diterima oleh masyarakat jawa. jadi dapat disimpulkan , tradisi Buka Luwur tersebut adalah sebuah tradisi turun temurun yang berasal dari wujud akulturasi antara budaya Islam-Jawa yang direkomendasikan oleh Sunan Kudus agar masyarakat kudus dapat menerima agama islam.


    Salah Satu Video nya : 




    0 Komentar

  • Copyright © 2013 - Nisekoi - All Right Reserved

    Ichijo's Blog Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan - Edited by Rizal Gonjek